PENERAPAN 3 ES TOMAT SEBAGAI IMPLEMENTASI BUDAYA POSITIF
Saat ini, nilai etika dan budaya di berbagai kalangan, khususnya pada generasi muda mulai mengalami pergeseran. Pergeseran itu meliputi maraknya pergaulan bebas dan anacaman pornografi, kekerasan, dan kerusuhan yang berujung pada tindakan anarkis. Dapat kita ketahui bahwa kondisi karakter para generasi muda terkhususnya para peserta didik di sekolah masa sekarang, sangat memprihatinkan baik secara emosional, tindakan, maupun prilaku sosial mereka. Bahkan, sering kita jumpai di media massa baik surat kabar maupun televisi, tentang pelajar yang saat ditegur oleh guru karena melakukan kesalahan, mereka malah cenderung melawan kepada gurunya dengan tindakan-tindakan yang kurang pantas. Bukan hanya itu, bahkan karena tidak memiliki etika, mereka melakukan kekerasan fisik dan mental kepada gurunya, hanya karena masalah yang sederhana. Dan masih banyak lagi bentuk tindakan anarkis yang lain. Pergeseran nilai etika dan budaya inilah penyebab generasi muda di zaman ini kehilangan jati dirinya. Kebanyakan dari mereka melupakan nilai luhur yang telah ditanamkan kepada dirinya sejak kecil oleh orang tua dan leluhurnya.
Permasalahan di atas adalah sebagian kecil masalah yang disebabkan oleh menurunnya etika, moral dan buadya di masa sekarang. Dalam kecanggihan dan kemodernan hidup di masa ini, telah membentuk manusia yang serba berpikir praktis untuk mencapai tujuan. Sehingga, banyak generasi muda yang mendahulukan emosi dalam menyelesaikan masalah dan melupakan apa dampak yang ditimbulkan. Kesenangan sesaat menjadi tolak ukur kebahagiaan dirinya, dan melupakan apa dampak yang akan ditimbulkan untuk orang lain.
Disinilah tantangan semakin besar di masa sekarang. Oleh karena itu, pendidikan di sekolah memiliki peran yang penting. Beberapa ranah pendidikan yang dikenal pada saat ini adalah, pendidikan intelek, pendidikan ketrampilan, pendidikan sikap, dan pendidikan karakter (watak). Saat ini di sekolah, pendidikan karakter semakin digalakan. Hal itu menciptakan berbaga model/program penanaman karakter bagi peserta didik di lingkungan sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lain.
Pendidikan karakter yang menekankan pada berbagai dimensi dalam proses pembentukan pribadi, diharapkan mampu membendung berbagai kemungkinan-kemungkinan negatif yang secara perlahan akan menghilangkan budaya bangasa ini. Sehingga diharapkan permasalahan yang timbul dari pergeseran etika dan moral yang dilakukan oleh para generasi muda akan semakin menurun atau bahkan menghilang.
Melihat sangat pentingnya penerapan pendidikan karakter, maka pendidikan karakter begitu gencar menjadi sorotan di berbagai kalangan negeri ini. Bahkan Nadiem Makarim, selaku Mendikbud lebih mengutamakan pendidikan karakter. Hal itu dianggap penting, karena kemajuan bangsa salah satu faktor yang menentukannya adalah bagaimana karakter dari manusia yang keluar dari sistem pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan filosofi Ki Hajar Dewantara tidak ada keabadian dalam kehidupan manusia dan lingkungannya. Pengaruh alam dan jaman adalah penguasa kodrat yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Anak-anak adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka. Maka, Ki Hadjar menekankan arti penting memperhatikan kodrat alam dalam diri anak semasa pendidikan. Artinya pendidikan itu sudah setua usia manusia ketika manusia mulai bertahan hidup dan mempertahankan hidup dengan membangun peradabannya. Mendidik anak itu sama dengan mendidik masyarakat karena anak itu bagian dari masyarakat. Mendidik anak berarti mempersiapkan masa depan anak untuk berkehidupan lebih baik, demikian pula dengan mendidik masyarakat berarti mendidik bangsa.
Menurut Ki Hadjar, Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat. Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Oleh karena itu, kemerdekaan menjadi isu kritis dalam Pendidikan karena menyangkut usaha untuk memerdekakan hidup lahir dan hidup batin manusia agar manusia lebih menyadari kewajiban dan haknya sebagai bagian dari masyarakat sehingga tidak tergantung kepada orang lain dan bisa bersandar atas kekuatan sendiri. Oleh karena itu untuk terwujudnya tujuan pendidikan tersebut diperlukan profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME. kebhinekaan global, bergotong royong, kratif, bernalar positif, dan mandiri. Kita sebagai pendidik harus mengetahui posisi control guru yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak kepada murid semua aspek tersebut harus dimiliki oleh seorang guru terutama calon guru penggerak.
Permasalahan yang terus muncul di dunia pendidikan diakibatkan karena tidak terselesaikannya akar permasalahan. Selama ini pemangku kebijakan pendidikan lebih tersibukkan dengan mengobati gejala-gejalanya sehingga permasalahan yang sama muncul kembali. Lunturnya nilai-nilai positif suatu sekolah diakibatkan rendahnya pembiasaan positif di dalam kelas. Pembiasaan positif dilakukan bukan dari kesadaran hati untuk melaksanakan kebiasaan positif atau motivasi instrinsik dirinya akan tetapi karena berbagai dorongan dari luar seperti takut dihukum, takut karena ada guru, malu sama teman, atau mengharapkan hadiah dan penghargaan setelah melakukan pembiasaan. Pembiasaan positif tersebut jadinya hanya bersifat semu dan akhirnya ketika faktor dari luarnya tidak ada, pembiasaan positif pun ikut hilang dan digantikan dengan pembiasaan negatif.
Menjadi pekerjaan bersama untuk menjadikan pembiasaan positif tumbuh dan tertanam secara sadar dilakukan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah khususnya peserta didik. Pembiasaan positif tersebut terbentuk dari disiplin positif yang tujuan akhirnya terbiasa, tertanam dan terbentuk budaya sekolah. Budaya yang menjadikan kekhasan sekolah masing-masing. Budaya yang membedakan sekolah yang satu dengan yang lainnya. Budaya positif sekolah tersebut bertujuan untuk membentuk profil pelajar Pancasila yang Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar kritis, Kebinekaan global, Bergotong Royong, dan Kreatif.
Budaya positif sekolah akan terwujud jika tertanam dan terbiasa dilakukan di dalam kelas dengan peran serta pendidik dan peserta didik sebagai aktor utama. Pertanyaannya bagaimana pembiasaan positif bisa terus ditanamkan dan dibiasakan sehingga membentuk disiplin positif dan tercipta budaya positif sekolah. Bagaimana Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar kritis, Kebinekaan global, bergotong royong dan kreatif sebagai nilai yang dimiliki profil pelajar pancasila dapat menyatu dengan peserta didik SD Negeri Mlesen.
Penerapan Budaya Positif diterapkan dalam metode 3 ES TOMAT.
3 ES adalah kepanjangan dari SALAM, SAPA dan SENYUM.
Tiga hal yang terlihat mudah dilakukan, namun nyatanya banyak siswa yang menganggap remeh sehingga cenderung mengabaikannya. Mulailah dari tersenyum. Hanya dengan sebuah senyuman, semua beban yang ada akan terasa ringan. Hadapi keadaan apapun dengan senyum. Salah satunya berilah senyuman kepada lingkungan sekitar. Banyak sekali manfaat yang dapat kita petik hanya karena senyuman.
Yang kedua adalah Sapa. Menyapa hal yang tidak sulit dilakukan. Tidak perlu mengeluarkan energi banyak. Namun kini siswa terlihat tak ingin menyapa sesama manusia. Jika diingat bahwa manusia adalah makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Lalu mengapa manusia masih tetap egois dan enggan untuk berinteraksi terhadap manusia lainnya?
Salam dianjurkan dan menjadi kewajiban bagi umat muslim. Hal yang sangat sederhana dan menjadi permulaan dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Namun banyak siswa yang enggan mengucapkan salam. Tanpa etika dan basa-basi, banyak mahasiswa yang to the point jika berbicara dengan seseorang. Mereka merasa tidak perlu mengucapkan salam sehingga langsung mengfokuskan pembicaraan pada intinya saja. Seperti inikah etika siswa? Tak ada salahnya jika kita mengucapkan salam sebagai awalan memulai pembicaraan.
Sedangkan TOMAT merupakan akronim dari TOLONG, MAAF dan TERIMA KASIH.
Penanaman nilai “TOMAT” merupakan ringkasan kata yang ditulis penulis untuk menarik pembaca agar menyakini bahwa ketiga kata yang sering dilalaikan itu dijadikan pembiasaan pendidikan komunikasi yang baik untuk ditanamkan kembali khususnya pada anak sekolah dasar yang menjadi perkembangan awal siswa bergaul dengan teman sebayanya. Ungkapan yang sering terabaikan ini merupakan ciri kemandegan komunikasi penimbul konflik, mengapa? Penulis melakukan berbagai observasi di lingkungan sekolah dasar, banyak yang ditemukan kasus siswa yang enggan mengucapkan meminta tolong, tidak saling memaafkan dan tidak hanya itu terima kasih pun jarang.
“Diawali dengan kata “Tolong” ditandai dengan orang dimintai bantuan tebtunya akan dengan senang hati membantu, tanpa ada keterpaksaan. Ataupun jika menolak dengan halus terlontarkan kata “Maaf” yang diucapkan secara tulus dengan maksud meredam amarah, kekesanan ataupun rasa dendam. Kata “Terima Kasih” mengartikan sebagai bentuk penghargaan kepada orang yang membantu. Ketiga kata tersebut menumbuhkan makna kesenangan pada individu.
Bertemali dari pernyataan tersebut Penanaman Nilai “TOMAT” (Tolong, Maaf dan terima kasih) di atas merupakan bagian dari Pendidikan Karakter khususnya pada pembiasaan komunikasi santun terhadap orang lain. Pengucapan ketiga kata tersebut mampu menjaga perasaan seseorang baik yang mengucapkan maupun yang menerima ucapan sehingga penanaman ini perlu dibiasakan sejak dini baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat untuk membangun literasi sosial yang berbudaya santun.
Konteks pendidikan di sekolah yang menjadi salah satu wadah penanaman nilai “TOMAT” (Tolong, Maaf dan Terima kasih) harus dilakukan dan dibudayakan oleh figur guru sebagai model. Pernyataan tersebut dimaksudkan bahwa dengan adanya pemodelan telah terbukti sangat efektif dalam pengembangan keterampilan sosial dan berperilaku di kelas seperti mengucapkan kata (Tolong, Maaf dan Terima kasih), ketepatan waktu, mengerjakan tugas dan sebagainya. Berkaitan hal ini, dituntut peran guru dalam menanamkan nilai tanpa adanya kekerasan ataupun paksaan. Bentuk strategi Penanaman yang dilakukan seperti mengajarkan penuh cinta no kekerasan, karena kekerasan menimbulkan mata rantai konflik selanjutnya.
Contoh penerapan budaya 3 Es Tomat di SD Negeri Mlesen bisa dilihat pada link berikut https://youtu.be/7RfbXQ43oa4
Komentar
Posting Komentar